Thursday, August 30, 2018

Periset Dapatkan Gen Pemicu serta Pengingat Mimpi


Waktu terbangun dari tidur, ada banyak mimpi yang bisa kita ingat dengan jelas, tetapi ada pula mimpi yang lalu betul-betul kita lupakan sampai rasa-rasanya seperti kita tidak punya mimpi. 

Untuk tahu kenapa mimpi dapat diingat atau dilupakan, riset dikerjakan oleh RIKEN Center for Biosystems Dynamics Research di Jepang tentang babak tidur REM (rapid eye movement) serta tidur non-REM pada tikus 

Saat tidur, babak tidur REM serta non-REM akan tiba dengan bergantian. Mimpi sendiri akan berlangsung waktu kita ada dalam babak tidur REM. 

Mimpi juga semakin lebih gampang untuk diingat waktu kita terbangun masih juga dalam babak tidur REM. Makin banyak babak tidur REM yang kita alami, maka semakin gampang untuk alami serta mengingat mimpi. 

Waktu masuk babak tidur REM, otak akan dipenuhi oleh neurotransmiter bernama asetilkolin yang mempunyai peranan terpenting dalam terjadinya babak tidur REM. 

Dalam penelitian ini beberapa periset sukses temukan dua gen, Chrm1 serta Chrm3, yang muncul untuk mengkodekan beberapa reseptor asetilkolin. Dengan lakukan riset pada tikus, periset temukan waktu mereka menghilangkan gen Chrm1 dari tikus, karena itu jumlahnya tidur REM tikus akan menyusut. Sesaat menghilangkan Chrm3 sama juga dengan kurangi jam tidur non-REM mereka. 

Mengenai waktu ke-2 gen itu di hilangkan, tikus tidak mendapatkan babak tidur REM benar-benar. Hal seperti ini juga bermakna tiada ke-2 gen itu, tikus tidak bisa punya mimpi. 

"Penemuan jika Chrm1 serta Chrm3 mainkan peranan terpenting dalam tidur REM buka jalan untuk pelajari sistem seluler serta molekuler yang mendasarinya serta akan sangat mungkin kita untuk mengetahui babak tidur REM yang paradoks serta misterius," kata Profesor Hiroki Ueda, penulis utama penelitian ini dalam pengakuan resminya, seperti diambil dari IFLScience. 

Awal mulanya tidur REM disangka bisa menolong otak kita untuk mengurus ingatan, emosi, serta beberapa hal yang sudah kita tekuni. Akan tetapi pada tikus yang tidak bisa punya mimpi lagi, tidak mendapatkan babak tidur REM terlihat tidak memberikan dampak pada otak hewan itu. 

Hal seperti ini mungkin bisa menuturkan jika mimpi sebetulnya tidak mempunyai dampak pada otak. Akan tetapi demikian, tidak mendapatkan babak tidur REM mungkin mempunyai dampak yang berlainan pada manusia serta tikus hingga dibutuhkan riset selanjutnya untuk tahu semakin banyak tentang tidur REM pada manusia.

No comments:

Post a Comment

#Ini rindu

Ini rindu, bukan? Kau mengingat, mangenang. Walau akhirnya kita tak pernah berharap ingin kembali.